Welcome to GKI Taman Aries Website
Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.
(Efesus 2:19-22)
JANGAN TERUS MENENTANG
Zakharia 9 : 9-12; Mazmur 145 : 8 – 14;Roma 7: 15-25; Matius 11: 16-19,25-30
Dalam perikop kita hari ini, ada dua orang tokoh perubahan dan pemulihan yang ditentang oleh orang-orang Yahudi saat itu, yakni Yesus dan Yohanes Pembaptis. Yesus menghadirkan perubahan dengan mengabarkan Injil sukacita bagi orang-orang Yahudi, sedangkan Yohanes Pembaptis mewartakan pentingnya pertobatan bagi orang-orang Yahudi. Ironisnya, sebagian besar yang menentang Yesus merupakan para ahli agama, ahli Taurat dan orang Farisi; orang-orang yang merasa tahu tentang Allah, tetapi ternyata tidak cukup rendah hati untuk mau diajar dan menerima kebenaran-Nya. Mereka kuatir dan takut kalau perubahan yang diwartakan oleh Yesus dan Yohanes Pembaptis akan mengakibatkan mereka kehilangan reputasi, kemapanan dan kehormatan mereka. Undangan Yesus untuk 8orang-orang yang terbelenggu oleh ketatnya aturan keagamaan agar bisa mengalami kelegaan, pemulihan dan kesegaran di ayat 28 “Marilah kepada-Ku semua yang letih dan berbeban berat …” ditentang oleh mereka. Mereka tidak siap untuk berubah dan melepaskan apa yang sudah mereka peroleh dan nikmati.

Sejujurnya hidup ini penuh dengan perubahan, setiap orang harus berani untuk berubah baik perubahan yang berada di luar kendali kita maupun yang ada dalam kendali kita. Seperti yang kita alami saat ini, di mana kita semua sedang berada dalam situasi yang berubah, situasi yang tidak lagi sama dengan masa-masa sebelum pandemi. Banyak orang yang tidak berani berubah karena takut kehilangan “comfort zone”nya, ada yang kuatir atau takut kalau-kalau perubahan membawa mereka ke arah yang lebih buruk dari sebelumnya.

Seni untuk menghadapi perubahan adalah dengan rela dan rendah hati melepaskan zona nyaman kita dan siap dengan berbagai peluang atau kesempatan yang baru. Tuhan dapat berkarya dalam pelbagai perubahan hidup yang kita alami. Dengan mengeraskan hati untuk tidak mau berubah berarti kita tidak akan bisa mengalami kebaikan dan kebenaran Tuhan, sehingga karya Allah tidak dapat bekerja dalam kehidupan kita.

Marilah kita menjadi orang-orang yang memiliki keterbukaan pada proses pembentukan hidup kita melalui perubahan-perubahan yang kita alami saat ini. Dengan kerendahan dan kerelaan hati untuk dibentuk, niscaya hidup kita pun akan dipenuhi dengan damai sejahtera. Sebagaimana janji Tuhan Yesus sendiri: ”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan (Mat 11: 28-29).
Gereja Kristen Indonesia © 2008. Design and Development by Aqua-Genesis.