Welcome to GKI Taman Aries Website
Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.
(Efesus 2:19-22)
“UPAH” DI DALAM TUHAN
Yeremia 28:5-9; Mazmur 89:2-5, 16-19; Roma 6:12-23; Matius 10:40-42
Di dalam dunia kerja setiap pekerja patut mendapatkan upah dari pekerjaannya. Jika owner lalai, apalagi dengan sengaja tidak memberikannya, maka jangan marah kalau para pekerja akan menuntut sang owner. Jika membandel, para pekerja bisa saja melanjutkan ke meja hijau. Dan mereka pasti dibenarkan oleh hakim, karena mereka meminta upahnya, yaitu apa yang menjadi haknya. Yah, upah adalah balasan atau hasil dari pekerjaan yang dilakukan. Itu adalah hak yang harus dipenuhi oleh ownernya.

Terkait dengan upah, Yesus pernah berbicara tentang upah bagi seseorang yang menerima nabi atau orang benar di dalam Matius 10:41. Kalau orang menerima nabi dapat upah nabi, kalau orang menerima orang benar dapat upah orang benar. Lalu kalau menerima Kristus dapat upahnya apa? Keselamatan? Kalau begitu apakah keselamatan adalah sebuah upah? Kalau ia adalah upah maka ia bukan lagi anugerah? Karena seseorang mendapatkannya dari hasil upayanya. Itu haknya dia. Jadi bisa nuntut kalau tidak dapat. Wah jadi panjang yah pertanyaan dan komentarnya gara-gara satu kata 'upah'. Apabila kita fokus pada kata 'upah' tentu akan banyak muncul taruk-taruk pertanyaan. Lalu bagaimana kita memahami perkataan Yesus di dalam injil tersebut?

Kata yang menarik dalam perkataan tersebut bukanlah tentang 'upah', tetapi ada pada kata 'menyambut'. Kata 'menyambut' dari kata Yunani 'dechomai'. Kata ini bermakna 'menerima dengan antusias apa yang datang padanya dan menjadi miliknya'.

Misalnya saja ada seseorang datang mau memberi saya 'babi panggang maknyusss gubrak', lalu saya tidak mau menyambutnya, pintu saya tutup, gerbang saya gembok, satpam saya suruh jaga di luar gerbang, masih kurang tambahin lagi anjing herder 5 ekor, dengan cara ini jelas-jelas saya tidak akan merasakan kelezatan babi panggang maknyusss gubrak'. Karena saya tidak menyambutnya. Tetapi akan berbeda kalau saya membuka gerbang selebar-lebarnya, pintu seterbuka-bukanya, senyum selebar-lebarnya, hati sedamai-damainya, maka berkat yang disambut itu menjadi milik saya. Inilah penggambaran tentang 'dechomai'. Menyambut dengan antusias yang datang kepadanya dan menjadi miliknya. Dengan demikian, seseorang mendapatkan kebaikan bukan karena dia telah bekerja untuk kepentingan orang tersebut, tetapi karena ia menyambut dengan antusias kemurahan hati orang yang datang itu padanya. Di sini kemurahan hati yang didapat itu karena 'mendatangi' bukan karena 'hasil bekerja'.

Dalam pemahaman 'dechomai' tersebutlah kata 'upah' (Yun. Misthon), diucapkan di dalam perkataan Tuhan Yesus. Bahkan ia diucapkan dalam kaitan dengan perkataan Tuhan Yesus di ayat 40: "... barangsiapa menyambut Aku, ia *menyambut* Dia yang mengutus Aku." Dengan demikian kata 'upah' di sini tidak sama artinya dengan "balasan atau hasil dari pekerjaan yang dilakukan. Tetapi berkat dari respon penyambutan kita atas anugerah yang "datang" pada kita. Tuhan Yesus datang menghampiri kita adalah anugerah, bukan upah karena kita telah menjadi pekerja yang layak. Sebaliknya ia datang memberikan anugerah keselamatan itu sehingga kita menjadi layak sebagai pekerja di ladang-Nya. Karena itu kita tidak layak menuntut balasan Tuhan atas pekerjan-pekerjaan baik yang kita lakukan. Karena kita melakukan pekerjaan-pekerjaan baik bukan supaya kita mendapat hasil melainkan sebagai wujud sikap diri yang menyambut dengan antusias anugerah keselamatan Tuhan Yesus. Kita melakukan kebenaran dan kebaikan bukan untuk sebuah upah dalam pengertian kelayakan bekerja, tetapi karena kebenaran dan kebaikan itu telah menghampiri kita dan menjadi milik kita.

Jadi ...

Kita di ajak untuk bekerja di ladang Tuhan, dalam konteks pekerjaan apapun yang baik, bukan sebagai pekerja upahan, tetapi sebagai pemilik anugerah. Yang bekerja bukan berdasarkan apa yang ia dapat tetapi karena ia ingin membagikan apa yang ia miliki dari Tuhan.

Dan akhirnya ...

Saya juga mau ucapkan selamat hari minggu. Selamat menyambut anugerah Tuhan dengan antusias.
Selamat menghidupi kebenaran dan kebaikan dalam anugerah Tuhan yang kita telah miliki.

Jangan lupa jaga jarak, pakai masker, cuci tangan, dan berbuat kebaikan.


Pdt. Rinto Tampubolon
Gereja Kristen Indonesia © 2008. Design and Development by Aqua-Genesis.