Welcome to GKI Taman Aries Website
Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.
(Efesus 2:19-22)
HAMBA YANG DIPERCAYA
Zefanya 1: 7, 12-18, Mazmur 90: 1-12, 1 Tesalonika5: 1-11, Matius 25: 14-30
Masih dalam menjelaskan soal akhir zaman, kembali Yesus memberikan perumpamaan. Kali ini Yesus bercerita tentang seorang tuan yang akan berpergian jauh. Sebelum pergi, tuan tersebut mempercayakan sejumlah hartanya kepada hamba-hambanya untuk diusahakan.
Ada hamba yang diberi lima talenta, ada yang diberi dua talenta, ada pula yang diberi hanya satu talenta. Injil Matius mencatat perbedaan talenta yang diberikan berdasarkan kemampuan hambanya. Artinya tuan tersebut sangat mengenal kemampuan hambanya.
Lama setelah itu tuannya kembali dan memanggil hamba-hambanya dan mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang diberi lima talenta mengusahakan talentanya sehingga menjadi sepuluh talenta. Sedangkan hamba yang dipercaya dua talenta melipatgandakan talentanya menjadi empat talenta.
Tiba kepada hamba yang ketiga, alih-alih memberikan hasil jerih payah mengusahakan talentanya, hamba tersebut malah menuduh tuannya sebagai tuan yang kejam. Maka murkalah tuannya dan memerintahkan pengawalnya untuk membuang hamba tersebut.
Pelajaran apa yang bisa kita pelajari dari perumpamaan ini?
1. Mengapa hamba yang diberi hanya satu talenta tidak mau mengusahakan talenta yang dipercayakannya itu? Apakah karena jumlah talentanya lebih sedikit dibandingkan dengan hamba yang lain? Bila kita cermati cerita ini, belum apa-apa hamba ini sudah menuduh tuannya sebagai orang yang kejam. Orang yang menuai di tempat di mana tidak menabur, yang memungut di tempat di mana tidak menanam. Ada persepsi yang salah dari hamba ini terhadap tuannya. Hamba ini tidak mengenal tuannya dengan baik. Padahal tuannya mempercayakan jumlah talenta kepada hamba-hambanya berdasarkan kemampuannya. Pengenalan yang salah menghasilkan tindakan yang salah. Bisa jadi sekalipun diberikan talenta yang berlebih belum tentu diusahakan oleh hamba ini.
2. Perumpamaan ini konteksnya adalah tentang khotbah akhir zaman. Di perumpamaan ini hanya diceritakan seorang tuan yang akan bepergian jauh. Berapa lama tuan ini pergi dan kapan tuan ini kembali tidak disebutkan. Sama seperti perumpamaan sebelumnya tentang gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh, kapan waktunya mempelai pria tiba tidak ada satu pun yang tahu. Jadi kapan tiba akhir zaman itu, bagi Yesus bukanlah hal penting. Jauh lebih penting adalah apakah selama tuan tersebut pergi hamba tersebut tetap setia mengusahakan hal-hal yang dipercayakan. Inilah ujian kesetiaan sesungguhnya.
Saat dunia dilanda pandemi covid19, perumpamaan tentang hamba-hamba yang setia untuk terus berkarya melipatgandakan talenta yang dimilikinya meski dalam masa-masa sulit sangatlah relevan.

Refrein lagu Kita Sudah Ditebus Oleh-Nya (NKB 213) kirannya bisa meneguhkan kita :

Mari bawa padaNya segenap talentamu
serta hidup mengikuti firmanNya!
Taat dan setialah walau sukar jalanmu,
hidup kudus agar kasihNya pun nyatalah!
Gereja Kristen Indonesia © 2008. Design and Development by Aqua-Genesis.