Selamat Datang di GKI Taman Aries Website

Follow Us:

KONTAK SEKRETARIAT

Far far away, behind the word moun tains, far from the countries Consonantia, there live the blind texts.

759 Pinewood Avenue

Marquette, Michigan

info@domain.com

Online Support

906-624-2565

Mon-Fri 8am-5pm

Get Subscribed!

    Pemuda dan Para Pemotong Pohon

    Para pemotong pohon sibuk bekerja, mengerahkan seluruh tenaga untuk hasil yang terbaik. Tetapi, sudah tujuh tahun berlalu, hasil pekerjaan mereka tidak pernah meningkat dan bahkan cenderung turun. Sang tuan kemudian berpikir untuk menambah seorang pekerja baru. Ia pun mempekerjakan seorang anak muda.

    Hari pertama di minggu pertama, anak muda itu datang ketempat kerja mereka. Para pekerja senang karena ada tambahan tenaga baru. Namun, kesenangan mereka tidak bertahan lama, sebab anak muda itu hanya duduk duduk saja dan tidak membantu mereka. Mereka mulai mengeluh dan mencibir sang anak muda.

    “Dari sejak pagi hanya duduk-duduk saja, sedangkan kita semua bekerja”, ucap pekerja satu tahun.

    ” Iya, enak sekali dia, kita memeras tenaga, dia santai santai aja”, ujar pekerja tiga tahun.

    “Mas, kamu kan sudah tujuh tahun bekerja, Kamu juga dekat sama manager. Bisikin manager dong kasih tahu”, ujar pekerja lima tahun.

    Tiga hari telah berlalu dan sepanjang hari itu para pekerja terus mengeluh tentang anak muda tersebut. Di hari keempat sang tuan mengumpulkan para pekerja untuk berbicara.

    “Baiklah, hari ini kita akan mendengarkan hasil kerja keras anak muda ini selama tiga hari”, ucap sang tuan.

    ” Tuan, anak muda ini tidak pernah bekerja, dia hanya duduk duduk saja seharian. Bagaimana tuan bisa mengatakan dia bekerja keras”, ucap salah satu pekerja dengan keras.

    Sang tuan tidak merespon perkataan pekerja itu, ia langsung meminta sang anak muda menyampaikan hasil pekerjaannya.

    “Saudara, ijinkan saya bertanya tiga hal. Pertama, kapan terakhir kali saudara mengasah kampak saudara? Kedua, apa yang saudara makan sebelum bekerja?”

    “Kami mengasah kampak enam bulan yang lalu dan kami tidak sempat sarapan dan langsung menebang pohon agar target tercapai”.

    ” Itulah dua kesalah saudara. Kapak yang tidak tajam akan membuat saudara mengeluarkan energi yang besar untuk menebang kayu dan tanpa saudara sarapan sebelum bekerja maka tiga jam kemudian energi saudara sudah berkurang jauh. Akhirnya saudara hanya terlihat sibuk bekerja tetapi tidak berdampak hasil yang maksimal”, ujar pemuda menjelaskan.

    Semua pekerja terdiam mendengarnya. Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari kalangan pekerja.

    “Saudara tadi katakan tiga hal, lalu apa yang terakhir?”

    “Apa yang saudara lakukan selama tiga hari ini sambil bekerja? “, tanya si pemuda.

    “Kami mengeluh, mencibir, dan membicarakan kamu yang hanya duduk duduk saja melihat kami”, jawab seseorang.

    “Itulah hal ketiga yang paling fatal. Kalian menghabiskan energi bukan untuk bekerja tapi sibuk membicarakan, mengeluh, dan mencibir orang yang bekerja bersama kalian dari pada melakukan bagian kalian dengan baik dan hati gembira. Dan satu lagi, pekerjaan saya memang bukan memotong pohon, tetapi bukan berarti saya tidak bekerja bersama saudara. Pekerjaan saya adalah duduk menolong saudara agar dapat memotong pohon dengan semakin baik”.

    (Pdt. Rinto Tampubolon)

    Tiga orang anak muda bertemu dengan Tuhan. Mereka kemudian bertanya kepada-Nya: “Tuhan bagaimanakah cara untuk menjalani kehidupan yang kami miliki?”

    Tuhan lalu membawa mereka ke sebuah tempat yang bernama sorga.

    “Saya beri kalian waktu satu hari untuk melakukan apapun di tempat ini”, ujar Tuhan kepada mereka.

    Tiga orang anak muda tersebut sangat gembira mendengar kesempatan yang diberikan Tuhan kepada mereka.

    Anak muda pertama berkata dalam hatinya: “Waktunya sangat pendek, aku harus merasakan keindahan seluruh tempat ini”. Ia pun segera berlari-lari ke setiap bagian area tempat itu. Ia terus berlari, berlari, dan berlari.

    Anak muda kedua berkata dalam hatinya: “Waktunya sangat pendek, aku harus mengumpulkan hal yang sangat berharga dari tempat ini”. Ia pun kemudian sibuk mencari sesuatu yang menurutnya sangat berharga dari tempat tersebut.

    Anak muda ketiga berkata dalam hatinya: “Ah, tempat ini begitu indah. Aku ingin berbaring seharian di atas rumput hijau ini, mendengar suara air mengalir, burung berkicau, dan udara yang sejuk.” Pemuda ketiga tidak beranjak kemanapun. Ia hanya berbaring ditempatnya.

    Waktu pun telah habis. Tuhan mengumpulkan mereka kembali.

    “Apakah yang kalian dapat hari ini?”, tanya Tuhan kepada mereka.

    “Aku lelah berlari seharian”, kata pemuda pertama.
    “Aku lelah mencari dan mengumpulkan yang paling berharga”, kata pemuda kedua.
    “Aku masih ngantuk”, ucap pemuda ketiga yang ternyata tertidur seharian.

    “Apakah kalian telah tahu bagaimana cara menjalani hidup yang kalian miliki?”

    “Belum Tuhan. Jadi, bagaimanakah caranya?”, tanya ketiga pemuda bersamaan.

    “Baiklah, saya memberikan waktu satu hari lagi untuk melakukan apapun yang kalian ingin lakukan di tempat ini”, ucap Tuhan kepada mereka.

    Ketiga pemuda gembira karena Tuhan memberikan satu hari lagi kepada mereka.

    Dengan gembira pemuda pertama segera berlari-lari kembali, pemuda kedua sibuk mengumpulkan yang paling berharga, dan pemuda ketiga kembali berbaring tidur.

    Tuhan melihat apa yang mereka lakukan dan bergumam: “Berapa banyak harikah yang perlu kuberikan kepada mereka agar mereka mengerti?

    (Pdt. Rinto Tampubolon)

    Ada ujar ujar mengatakan “Sampan Ada, Pengayuh Tidak.” Artinya ‘hendak melakukan sesuatu, tetapi tidak lengkap syarat-syaratnya’. Menegur juga begitu. Dia tidak hanya bermodalkan hasrat atau keinginan, apalagi nafsu untuk menegur orang. Untuk menegur memerlukan tiga prasyarat yaitu: HATI, TUJUAN, dan KATA-KATA.

    Sebelum kita menegur orang lain, kita harus lihat dulu HATI kita.

    Pertama, jangan menegur dengan hati yang sedang emosi. Entah itu emosinya sedang marah, kecewa, kesel, dan sebagainya. Menegur harus dengan hati yang damai. Jadi, damaikan dulu hati kita. Kuasai hati kita dan doakan terlebih dahulu supaya emosi buruk lenyap dalam diri kita.

    Kedua, hati kita harus didasari kasih terhadap orang itu. Sebelum menegur orang lain, kita perlu check hati kita. Jangan-jangan kita bersemangat tegur orang tersebut karena kita pernah terluka olehnya. Kita benci, tidak suka, dan sedang marah padanya. Kita juga perlu selidiki apakah pada saat kita mau menegur, hati kita dipenuhi rasa pongah, merasa lebih mulia, dan lebih benar dari orang lain tersebut. Jika ini yang ada di hati kita, maka kita harus bersihkan dulu hati kita dari semua itu. Supaya yang tinggal hanyalah kasih Tuhan terhadap orang tersebut. Jika tidak, maka kita sendiri sedang membawa diri kita jatuh kepada pencobaan.

    Setelah hati kita beres, maka kita perlu check TUJUAN kita. Tujuan menegur hanya satu saja, seperti kata Tuhan Yesus, “supaya kita mendapatkannya kembali”. Artinya supaya kita menyelamatkan hidupnya kembali kepada Allah. Membawa dia kembali kepada terang firman Tuhan. Tujuannya hanya itu saja. Tidak boleh ke luar dari tujuan itu. Tidak boleh ada tujuan untuk berniat menjatuhkannya, membalas dendam, atau hendak mempermalukan diri orang tersebut. Ketika kita ke luar dari tujuan yang diinginkan Allah, maka kita bukan lagi sedang menegur untuk menyelamatkan, tetapi menjatuhkan diri kita pada hasrat kedagingan kita. Kita pun di sini menjadi tidak benar.

    Terakhir, setelah hati dan tujuan, maka kita perlu siapkan KATA-KATA. Menegur itu bukan tentang mengeluarkan kata-kata yang menyerang pribadi orang lain. Menegur bukan tentang menyampaikan kata-kata yang menghakimi orang lain. Menegur bukan tentang memuaskan diri kita. Menegur bukan tentang membicarakan tindakan buruk yang orang lain lakukan. Kita juga harus menjaga kata kata kita, supaya perkataan kita adalah perkataan yang menyelamatkan bukan menyudutkan, menyadarkan bukan menekan, menolong bukan menjatuhkan.

    Jadi, menegur itu apa? Menegur adalah…………………..(bersambung)

    Pdt. Rinto Tampubolon

    Ditegur itu tidak enak. Bisa bikin panas telinga, hati, otak, jantung, dan lambung. Kalau kuping sudah panas, otak pun gerah, jantung berdetak ngebut, asam lambung teriak-teriak di perut. Lalu mulut siap-siap meledak mengeluarkan larva kata-kata yang panasnya dua kali lipat dari kata-kata yang diterima. Karena itu, kebanyakan orang tidak mau ditegur.

    Menegur orang juga sama tidak enaknya. Emangnya mudah negur orang? Emangnya siap untuk menerima larva amarah dari orang yang ditegur? Lagian siapa kita, negur-negur orang lain. Kepo amat sih sama hidup orang lain. Orang mau celaka atau tidak itu pilihan hidupnya sendiri. Mending diam saja, jangan menghakimi hidup orang lain. Begitu kata orang banyak.

    Penginnya sih begitu. Cuex aja akan hidup orang lain. Tetapi firman Tuhan bilang kita harus mengasihi sesama. Apakah kita bisa dikatakan mengasihi sesama, kalau kita tahu bahwa seseorang tersebut sedang berjalan menuju jurang dan kita diam saja? Apakah kita adalah seorang sahabat yang mengasihi sahabat kita kalau kita diam saja ketika melihat pernikahannya akan hancur karena tindakan ketisaksetiaannya pada pasangannya? Apakah kita menjadi teman yang baik ketika melihat teman kita menjauh dari ibadahnya kepada Tuhan? Apakah kita bisa dikatakan mencintai Kristus, jika kita membiarkan orang lain dan keluarga kita celaka, padahal Kristus berkorban untuk menyelamatkannya? Apakah kita bisa diam saja. Padahal firman Tuhan di Yehezkiel 33:8-9 mengatakan “kalau kamu tidak memperingatkan orang jahat tersebut supaya bertobat dari hidupnya, ia akan mati dalam kesalahannya”.

    Kalau kita dikatakan mengasihi orang tersebut, apakah kita akan diam saja membiarkan dia celaka. Apakah kita sangat egois hanya memikirkan diri kita saja. Udah biarkan saja sesama kita binasa, yang penting kita tidak. Apakah sikap ini Allah benarkan?

    Apabila melihat perkataan Allah kepada Yehezkiel, tampaknya hal itu bukan sikap yang dikehendaki Allah. Buktinya Dia berkata kepada Yehezkiel 33:8-9 “kalau dia tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang tersebut, maka Allah akan meminta pertanggungan jawab atas nyawanya dari pada dirinya. Tetapi, kalau dia memperingatkan orang tersebut tetapi orang tersebut tidak bertobat, maka tindakan mengingatkan itu menyelamatkan hidup Yehezkiel”.

    Jadi, baik menegur dan menerima teguran memiliki dasar yang sama yaitu karena kita mengasihi diri kita dan orang lain. Kita ingin diri kita dan orang lain tetap memiliki kehidupan yang dari Allah.

    Sekarang, sudah siap ditegur oleh orang lain? Atau, sudah siap siap mau negur orang lain? Upss, sabar dulu, jangan buru-buru. Kita belajar dulu lagi besok yah…. ……(bersambung)

    Pdt. Rinto Tampubolon.

    Bermain layangan juga memiliki cerita jeleknya. Jelek bukan karena permainannya, tetapi karena ada aja orang-orang yang melakukan hal buruk ketika bermain. Ada orang-orang yang mengejar layangan putus dengan prinsip, ¬“kalau saya tidak dapat, orang lain juga tidak boleh dapat”.

    Orang-orang dengan prinsip tersebut akan berupaya menghancurkan layangan putus yang sudah di dapat orang lain terlebih dahulu. Orang-orang seperti ini tidak senang melihat orang lain gembira. Ia hanya mau bersenang-senang sendirian. Ia tidak peduli orang lain. Ia tidak akan mengucapkan selamat kepada yang mendapatkan layangan, tetapi justru merusak layangan yang telah di dapat orang lain.

    Biasanya orang-orang seperti itu punya cara yang khas. Ketika ia melihat tangan orang lain sudah memegang terlebih dahulu layangan yang putus, maka ia akan mendorong-dorong orang-orang untuk menghasilkan kekacauan, lalu segera tangannya menyelinap di sela-sela kekacauan untuk merobek layangan yang ada di tangan orang lain. Ia menghancurkan dengan cara tersembunyi, sehingga tidak bisa disalahkan. Begitulah karakter jeleknya. Ada rasa iri, jahat, merusak, licik, dan sebagainya diborong jadi satu hanya karena tidak ingin orang lain gembira dan keinginannya tidak tercapai.

    Menghadapi orang-orang seperti itu memang _ngeselin. Tetapi anak-anak yang layangannya telah dirobek tidak marah-marah. Ia tidak mengajak berkelahi orang-orang yang telah menghancurkan kegembiraan dan kerja kerasnya dalam mengejar layangan putus. Ketika layangan itu sudah robek, ia membuangnya dan kemudian fokus lagi berupaya mengejar layangan putus yang lain. Tetapi ada bedanya, dan ini yang menarik.

    Anak-anak yang baik tahu bahwa berhadapan dengan orang seperti itu tidak harus berlaku sama dengannya, tetapi justru harus memiliki perilaku yang berbeda. Mereka berpikir bagaimana cara yang kreatif, baik, dan tidak merusak orang lain, tetapi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Anak-anak itu pun kemudian menemukan cara dan tehnik lain dalam mengejar layangan putus. Mereka tidak mengejar lagi layangannya tetapi mengejar benang layangan yang melambai mengikuti layangan. Anak-anak belajar mulai memiliki fokus penglihatan yang lebih tajam. Mereka mencari benang layangan yang melambai di udara lalu kemudian menangkap benang itu. Siapa yang menangkap benang tentunya ia lah yang menguasai layangan putus yang masih berada di udara. Cara ini membuat orang-orang dengan sifat perusak tadi tidak mampu untuk merusak layangan yang telah di dapat. Layangan putus jauh dari jangkauannya. Setelah kondisi tenang, barulah yang mendapatkan layangan menurunkan layangan putus untuk dia bawa pulang.

    Pengalaman mengejar layangan putus adalah pembelajaran pembentukan diri. Sekalipun kita sangat menginginkan sesuatu untuk didapatkan, kita harus tetap menjaga karakter kristiani kita dalam mendapatkan itu. Firman Tuhan dalam Yakobus 4:2 mengingatkan kita, jangan karena kita tidak memperoleh keinginan kita, maka kita berbuat jahat dan berperilaku buruk. Kita perlu belajar terus menerus untuk mendapatkan sesuatu bukan dengan kejahatan tetapi dengan doa dan karakter kristiani yang firman Tuhan ajarkan.

    Di sisi lain, anak-anak yang baik, para pengejar layangan putus, memiliki tindakan yang bernilai untuk kita pegang. Mereka tahu bahwa layangan putus yang mereka kejar itu juga dikejar oleh banyak anak-anak lain. Diantara para pengejar ada saja yang mengejar dengan cara tidak patut dan wajar. Karena itu mereka berupaya untuk lebih mengasah kecerdikannya dari pada merawat amarahnya atas perbuatan orang lain itu. Jauh lebih baik menggunakan waktu untuk berpikir cara cerdik dan berkarakter dari pada menghabiskan waktu untuk bertengkar dengan orang yang memang berniat merusak kegembiraan diri. Akhirnya terbukti, anak-anak yang berkarakter dan berpikir cerdik, justru berkembang dalam pengetahuan dan keterampilannya. Mereka bisa mendapatkan apa yang mereka kejar tanpa merusak apa yang telah didapatkan orang lain dan sekaligus juga membuat para perusak tidak mampu untuk merusak apa yang ia dapatkan. Di sinilah saya mengingat apa yang Tuhan Yesus katakana kepada murid-murid-Nya: “…hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”.

    Untuk itu, mari saudara-saudara kita juga menjadikan perkataan Tuhan Yesus sebagai doa kita: “Tuhan Yesus berikanlah aku kecerdikan dan ketulusan agar aku bisa tetap hidup sebagai murid dan tidak menjadi serigala di tengah kehidupan”.

    (Selesai)

    Salam
    Pdt. Rinto Tampubolon

    Selamat siang, selamat liburan, selamat bersantai. Sambil santai di siang hari ini, perkenankan saya mengirim lanjutan cerita bermain layangan. Selamat membaca.😊

    Ada tiga keahlian dasar yang diperlukan untuk dapat bermain layangan. Pertama, MEMBUAT TALI KAMAH LAYANGAN.

    Tali kamah adalah teknik membuat tali pada layang layang. Caranya terlihat sederhana, mengikatkan satu ujung tali pada dua titik lubang secara bersilang di rangka atas dan ujung satunya pada rangka kayu dibawahnya. Tantangannya baru muncul pada saat kita membuat ikatan kedua ujung tali di titik tertentu untuk untuk disambungkan ke benang layangan. Disinilah tekniknya, terlalu pendek atau terlalu panjang ikatan akan membuat layangan sebagus apapun tidak akan bisa terbang. Kita harus mencari TITIK KESEIMBANGAN. Kalau hanya mengikat tali saja mudah, tetapi mengikat kedua tali pada titik yang tepat itu yang diperlukan supaya layang layang bisa mengudara dengan baik.

    Keahlian ke dua adalah MENYAMBUNG TALI. Tali layangan yang dijual memiliki batas panjangnya. Jika kita ingin layangan jauh lebih tinggi maka tali harus disambung dengan tali berikutnya. Menyambung tali pun membutuhkan keahlian, karena kalau tidak diikat dengan benar maka ia bisa putus ketika menghadapi tekanan angin. Kalau sambungannya tidak rapih, maka ia bisa menyebabkan benang menjadi kusut. Terlebih lagi kalau dua benang yang disambung punya tipikal yang berbeda. Teknik menyambung itu harus dipelajari anak anak supaya layangan bisa lebih tinggi terbangnya. Tanpa keahlian itu melihat layangan terbang lebih tinggi hanyalah mimpi.

    Tehnik ketiga: TARIK DAN ULUR. Ini adalah tehnik untuk mengendalikan angin dan menjaga keseimbangan layangan. Ketika angin kencang maka seorang anak harus tahu apakah ia harus mengulur atau menarik layangannya. Salah dalam mengambil keputusan dapat mengakibatkan layangan itu putus atau nyungsep. Lalu dari mana si anak tahu layangan sedang menghadapi angin besar atau kecil di atas? Dia merasakan lewat jarinya yang terhubung pada benang. Si anak harus terus melatih kepekaan inderanya, sehingga sekalipun ia jauh dari layangannya, ia tetap bisa tahu apa yang sedang dihadapi layangannya dan keputusan apa yang perlu diambilnya dari jauh.

    Tiga tehnik dasar bermain layangan rupaya juga termasuk life skill kehidupan yaitu:

    Bagaimana cara mengikat dua hal pada titik kesatuan yang menyatukan dan memberi keseimbangan untuk membuat sesuatu berfungsi baik.

    Bagaimana pentingnya kemampuan untuk menyambungkan dua hal yang berbeda untuk memperluas dan mengembangkan jangkauan.

    Bagaimana mengambil keputusan yang tepat dengan menggunakan pengetahuan dan insting secara bersamaan.

    Apakah ketiga life skill tersebut hanya berguna untuk bermain layangan? Bisakah digunakan untuk kehidupan pelayanan berkomunitas di gereja, kehidupan pernikahan dan keluarga, pekerjaan dan bisnis usaha?

    Dari ketiga life skill tersebut mana yang saudara miliki? Bagaimana menurut saudara?

    Salam

    Pdt. Rinto Tampubolon

    Waktu masih kecil saya suka bermain layangan. Saya biasa menaikkan layangan di lapangan dekat rumah. Saking seringnya bermain layangan kulit pun menjadi hitam legam dan kumel.

    Bermain layangan itu punya banyak nilai yang bisa dipelajari. Nilai BERKOMUNITAS, misalnya. Keseruan bermain layangan justru ketika bermain layangan bersama teman teman. Bermain layangan sendirian itu membosankan. Tidak seru! Aneh rasanya bermain sendirian di lapangan.

    Anak anak tahu akan prinsip komunitas tersebut. Bermain bersama dengan yang lain lebih seru daripada bermain sendirian. Karena itu, waktu yang paling baik bermain layangan adalah menjelang sore, karena itulah waktu komunitas, di mana ada banyak anak anak berkumpul dan bermain bersama. Ketika waktu itu tiba, tanpa dikomando kami semua segera berkumpul ke lapangan. Inilah hebatnya kesadaran alami akan berkomunitas yang tumbuh pada kami di masa kanak kanak. Kami bergerak, berkumpul, tanpa perlu digerakkan dan dikumpulkan.

    Kami juga belajar secara alami bagaimana HIDUP DALAM PRINSIP NILAI YANG SUDAH ADA. Ada prinsip yang tidak tertulis tetapi disepakati bersama dan diajarkan kepada para pemain layangan baru. Kami tahu bahwa jika sebuah layangan memakai buntut di bawahnya, maka layangan itu jangan diganggu. Tanda buntut pada layangan menunjukkan bahwa orang tersebut hanya ingin bermain layangan saja bukan untuk mengadu layangan. Prinsip ini dipegang oleh anak anak. Ketika ada yang hendak iseng melanggar prinsip itu, maka komunitas anak anak akan mengingatkan dia untuk menghargai nilai prinsip bersama yang baik. Begitulah cara kami anak anak saling menjaga komunitas layangannya. Kebersamaan di lapangan sekalipun tetap memiliki nilai prinsip yang perlu dijaga bersama sama.

    Kenangan bermain layangan itu menghubungkan pikiran saya pada gereja. Seandainya gereja adalah gambaran lapangan tempat anak anak berkomunitas, maka nilai yang dihidupi anak anak yang bermain layangan tampaknya juga baik untuk dimiliki setiap anggota jemaat. Sehingga waktu BERKOMUNITAS adalah waktu yang ditunggu oleh setiap orang dan komunitas gereja menjadi tempat setiap pribadi saling diteguhkan dan diingatkan untuk tetap hidup berpegang pada nilai nilai prinsip iman kristiani kita.

    O yah, malam ini, Selasa, tanggal 21 Maret 2021, pukul 19.30 wib, di wilayah masing masing, kita ada Growing In Community, mari kita kumpul “main layangan” bersama.

    (Bersambung)

    Pdt. Rinto Tampubolon

    Sebagai murid Sekolah Minggu saya terkagum-kagum mendengar cerita tentang orang lumpuh yang diturunkan dari atap untuk disembuhkan oleh Tuhan Yesus. Bukan! Yang saya kagumi bukanlah bagaimana ia disembuhkan, melainkan bagaimana ia dibawa ke tempat itu. Ia digotong oleh empat orang kawannya. Pasti berat menggotongnya. Rumahnya mungkin jauh dari tempat itu. Lalu ternyata tempat itu sudah dipenuhi banyak orang sehingga tidak ada lagi jalan masuk. Untunglah keempat kawannya mempunyai akal. Mereka menggotong dia naik ke atap. Kemudian mereka mengikat tilam pembaringan orang lumpuh itu dengan empat utas tali. Sesudah itu mereka membuka atap. Lalu mereka mengulur tali itu dan menurunkan orang lumpuh itu perlahan-lahan ke lantai dasar. Pasti susah. Pasti harus berhati-hati dan seimbang. Bayangkan betapa susahnya menurunkan orang sakit yang terbaring di tilam dengan tali dari atas atap rumah. Apa jadinya kalau salah satu utas tali itu terlalu cepat turunnya, pasti tilam itu miring dan orang itu jatuh. Atau apa jadinya kalau salah satu utas tali itu tiba-tiba putus. Tetapi ternyata mereka berhasil. Hebat sekali. Bukan main cakapnya para sahabat orang lumpuh itu. Hebat!

    Tetapi sekarang baiklah kita lihat dulu apa yang tertulis di Markus 2:1-12 tentang kejadian ini. Markus mencatat bahwa pada saat itu Tuhan Yesus sedang “memberitakan firman” (2:2), sebuah ungkapan yang sinonim dengan mengajar. Kegiatan mengajar oleh Markus jelas-jelas dibedakan dari kegiatan menyembuhkan. Di pasal sebelumnya yaitu 1:34, dicatat bahwa Yesus sedang menyembuhkan. Lalu di 1:38, Yesus menolak bertemu dengan orang-orang yang minta penyembuhan karena Yesus mau mengajar. Kemudian di pasal 9:30-31, Yesus tidak mau diganggu ketika Ia sedang mengajar.

    Kembali ke cerita kita. Di sini jelas bahwa Yesus sedang mengajar. Di tengah kegiatan mengajar itulah tiba-tiba terjadi gangguan yang mengejutkan. Secara tiba-tiba ada tilam diturunkan dengan tali dari atas atap. Di tilam itu terbaring seorang lumpuh. Langsung semua orang menoleh ke situ. Mereka tidak lagi memperhatikan Yesus. Pengajaran Yesus terputus dan terganggu.

    Lalu apa reaksi Tuhan Yesus? Ternyata Ia bisa menerima gangguan itu. Ia terkesima pada apa yang terjadi. Lalu Ia memberikan pujian tentang iman. Iman siapakah yang dipuji? Markus mencatat, “Ketika Yesus melihat iman mereka …” (2:5). Perhatikan bentuk jamak kata mereka. Yesus memuji iman mereka. Siapakah mereka dalam konteks ini? Itulah kawan-kawan orang lumpuh itu. Yesus menilai perbuatan mereka sebagai perbuatan imani. Yesus menyamakan perbuatan itu sebagai iman.

    Sungguh menarik bahwa perhatian Yesus tertuju pada kawan-kawan itu. Mereka masih ada di atas atap. Mereka tidak bisa turun. Mereka menatap dan menunggu di atas. Rupanya Yesus juga langsung melihat ke atas. Yesus bisa melihat mereka. Mungkin Yesus memperhatikan wajah keempat orang itu. Mereka mungkin tampak agak takut, sebab mereka tahu bahwa mereka mengganggu Yesus yang sedang mengajar. Namun di wajah mereka juga tampak dambaan untuk belas kasih agar kawan mereka yang lumpuh itu bisa disembuhkan. Yesus menatap wajah mereka. Lalu Yesus melihat ke bawah dan menatap wajah orang lumpuh itu yang tampak cemas harap-harap dalam ketidakberdayaannya.

    Sungguh beruntung orang itu. Ia mempunyai kawan-kawan. Mereka itulah yang menggotong dia. Mereka memberi semangat dan pengharapan. Hidup terasa bermakna lagi. Tanpa kawan-kawan ini, orang lumpuh itu hanya terkulai seorang diri di rumah. Sungguh baik hati sahabat-sahabat itu.

    Itulah indahnya sikap bersahabat. Bersikap sebagai sahabat adalah karunia tersendiri. Seorang sahabat adalah dia yang menerima kita sebagaimana adanya. Ia menyelami kelemahan kita dan rela menolong kelemahan kita; sekaligus ia mengagumi keunggulan kita dan mau memetik pelajaran dari keunggulan itu. Hanya orang yang berjiwa besar bisa bersikap bersahabat. Ia bersih dari iri dan dengki. Ia sama sekali tidak punya pikiran untuk menjegal dan menjatuhkan kita. Ia beritikad baik. Yang diinginkannya terjadi pada kita adalah hal yang terbaik untuk kepentingan kita.

    Kualitas bersahabat seperti itu tidak terdapat pada tiap teman. Kita bisa mempunyai 100 teman, namun teman yang sejati bisa dihitung dengan jari. Sampai puluhan tahun kemudian sahabat sejati seperti itu kita kenang dengan rasa berterima kasih.

    Saya mengenang beberapa sahabat dari masa kecil dengan cara mengambil alih nama mereka. Pertama, ketika Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag menawarkan kemungkinan berganti nama, saya mengubah nama Hong An menjadi Andar, yaitu nama seorang sahabat masa lalu. Kedua, ketika putri kami lahir, kami namai dia Atikah, juga nama seorang sahabat. Demikian juga kami namai putra kami Syarif untuk mengenang seorang sahabat.

    Persahabatan itu memang indah. Hal itu pasti juga dirasakan oleh orang lumpuh dalam cerita kita. Mungkin sampai puluhan tahun kemudian ia tetap mengenang mereka yang terengah-engah menggotong dia ke atas atap. Tangan-tangan itu. Tangan-tangan yang kuat. Tangan-tangan yang berbelas kasih. Tangan-tangan para sahabat. Persahabatan memang mengagumkan. Alangkah bedanya sikap bersahabat dari sikap bermusuhan. Hidup menjadi damai oleh sikap saling bersahabat.

    Kini orang lumpuh itu sehat walafiat. Ia telah mengalami mujizat penyembuhan. Namun sebelum itu ia sudah mengalami mujizat yang lain, yaitu : mujizat … persahabatan.


    Disadur dari Buku Selamat Sejahtera, Andar Ismail. (2009-02-05)

    ”Hormatilah Ayahmu dan Ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu”. Ulangan 5:16

    Seorang raja Qin Shi Huang terkenal sebagai raja yang tiran, yaitu raja yang kejam dan menindas orang yang menentang pendapatnya. Rakyat hidup dalam keadaan miskin dan sengsara. Pada jaman dinasti Qin itu, ada seorang anak remaja bernama Zhang Liang yang bakti atau ut hao. Zhang Liang biasa dipanggil dengan panggilan ”ru zi”, dalam bahasa mandarin modern disebut Xiao hai zi, artinya anak kecil. Walaupun Zhang Liang masih kecil, namun ia mempunyai cita-cita untuk membebaskan rakyat dari kekuasaan tiran dan membawa rakyat untuk menikmati kehidupan damai, baik hari lewat hari.
    Pada saat, ia lelah belajar, ia memutuskan untuk berjalan-jalan dan bermain-main. Dalam perjalanannya itu, tibalah ia di suatu jembatan. Dari kejauhan nampaklah di ujung jembatan, ada seorang kakek tua sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Ketika semakin dekat dengan kakek itu, Zhang Liang melihat bahwa kakek itu terkesan aneh. Baju yang dipakainya banyak yang tambal sulam. Sepatunya pun sudah begitu kusam tak terawat dengan baik. Bahkan tubuh kakek itu sangat kotor. Walau ia merasa enggan berdekatan dengan kakek itu, namun ia tetap seorang anak yang tetap menaruh sopan kepada yang lebih tua. Zhang Liang memberi salam, ”selamat sore kakek”. Setelah ia memberi salam, Zhang Liang segera pergi, karena tak mempunyai kepentingan apa-apa.
    Baru beberapa langkah, terdengarlah suara kakek itu berteriak: ”Hai nak, diam di tempat”. Zhang Liang menuruti perintah kakek itu. Zhang Liang melihat sang kakek membuka sepatu yang kusam dengan susah payah. Lalu kakek itu membuang sepatunya ke sungai. Sang kakek berdiri dan berkata: ”Tolong ambilkan sepatu saya itu. Jika saya kembali dari perjalanan, kembalikan kepada saya”. Kakek itu berlalu dari Zhang Liang. Zhang Liang sangat marah mendengar ucapan sang kakek. Dalam hatinya, Zhang Liang berkata: ”Memangnya anda siapa? Anda dan saya tidak mempunyai hubungan apa-apa dan mengapa memberi perintah seperti itu!”.
    Oleh karena Zhang Liang sebagai anak yang berbakti/Ut Hao, sopan, ia tetap mengontrol emosinya. Apalagi si kakek itu sudah tua, Zhang Liang tidak ingin melakukan sesuatu yang tidak sopan. Zhang Liang segera pergi ke sungai dan mengambilnya untuk dijemur. Setelah kering, sepatu butut itu dibawa Zhang Liang ke kakek itu. Setelah menatap mata Zhang Liang dalam-dalam, kakek itu berkata: ”Pakaikanlah sepatu itu di kaki saya”. Dengan berat hati, ia memasang sepatu butut di kaki kakek. Kakek itu menerimanya tanpa berkata: ”Terima kasih”.
    Zhang Liang berkata kepada dirinya: ”Sejak dulu, belum pernah ia berjumpa dengan orang tua yang tidak tahu adat seperti kakek itu”. Setelah berkata demikian, ia pun pergi menuju rumah. Baru saja ia melangkah lagi, sang kakek itu berseru lagi, ”Hai anak kecil, tunggu sebentar”. Kakek tua itu berkata kepada Zhang Liang: ”Saya perhatikan kamu anak yang tahu sopan santun. Kamu dapat mengendalikan dirimu dan sedikitpun kamu tidak mengeluarkan kata-kata marah kepada saya. Saya percaya suatu hari, nanti kamu akan menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan masyarakat. Begini, lima hari lagi, kita ketemu di sini. Saya akan memberikan sesuatu yang sangat penting bagimu”. Kemudian mereka berpisah.
    Zhang Liang tidak begitu yakin tentang apa yang dikatakan oleh sang kakek itu, namun ia tetap menghormati sang kakek dan datang untuk bertemu dengannya. Pada saat ia datang di jembatan itu, Zhang Liang terkejut melihat kakek itu sudah datang mendahuluinya. Kakek itu marah: ”Kamu ini, anak yang tidak tahu menepati waktu, kenapa datang terlambat. Kalau begitu hari ini tidak jadi dan datang lima hari lagi ke sini dan ingat, jangan terlambat”.
    Lima hari berikutnya, ketika Zhang Liang tiba di jembatan, si kakek itu sudah ada terlebih dahulu. Sang kakek itu marah lagi dan berkata: ”Jika kamu terus begini, kamu tidak akan dapat belajar apapun. Lima hari lagi datang ke sini dan jangan sampai saya mendahului kamu”.
    Walau agak kesal, tetapi Zhang Liang tetap diam. Pada hari kelima, ia pergi ke jembatan lebih awal. Kali ini Zhang Liang dapat tersenyum, karena melihat sang kakek datang setelah Zhang Liang. Sang kakek itu bangga dan mengusap-ngusap kepala Zhang Liang dan berkata: ”Kamu sungguh anak yang baik. Mari lihatlah apa yang aku bawa”. Kakek itu mengeluarkan buku tebal dari kantong yang dibawanya dan berkata: ”Saya tahu, kamu anak yang baik. Saya tahu kamu ingin membantu rakyat untuk hidup damai dan sentosa. Oleh sebab itu, saya ingin mendidik kamu. Untuk itu pulang dan bacalah di rumah. Jika kamu sudah menguasainya, maka kamu akan mencapai impianmu untuk menyejahterakan rakyat”.
    Ia pulang dengan gembira dan mempelajari buku tersebut. Rupanya buku itu adalah ”Tai Gong Bing Fa”, sebuah buku panduan untuk mengamankan dan menyejahterakan negara. Buku Tai Gong Bing Fa tetap menjadi buku utama oleh para ilmuwan dan para politikus sampai sekarang. Setelah besar, Zhang Liang menjadi seorang tentara yang sangat ahli dan seorang pejabat yang mempunyai banyak kelebihan. Zhang Liang dicintai rakyat, karena ia sungguh berjuang agar rakyat dapat hidup aman, damai dan bahagia.
    Pesan dari cerita ini adalah: ”Ru Zi Ke Jiao”, artinya: jadilah anak yang sopan dan berbakti. Pesan cerita ini tentang ”menjadi anak yang sopan dan berbakti” akan kita lihat dalam perspektif tradisi Tionghoa: Imlek, sembahyang leluhur.
    Jadilah anak yang sopan dan berbakti dan perspektif pertama, yaitu: tahun baru Imlek. Salah satu tradisi yang ada dalam tahun baru imlek adalah: orang-orang yang lebih muda datang memberi hormat kepada orang yang lebih tua. Dengan kata lain, tidak ada orang yang lebih tua datang ke rumah orang yang lebih muda. Adalah baik dan merupakan keharusan, bila anak-anak menaruh hormat, sopan dan bakti kepada orang tuanya. Mengapa? Sebab orang tua adalah wakil Tuhan untuk memelihara generasi muda atau anak-anak. Orang tua telah melahirkan anak-anak dengan susah payah bahkan menanggung resiko kematian. Orang tua telah merawat dan mendidik anak-anaknya. Orang tua telah memberikan yang terbaik bagi kebutuhan anak-anaknya. Di samping itu ada tradisi yang dipelihara oleh para orang tua secara ekstrim, di mana anak-anak melakukan kui/berlutut di hadapan orang tuanya (saya tidak tahu, apakah saat ini, tradisi itu masih ada?). Harus kita bedakan antara hormat dan menyembah. Anak-anak boleh dan harus menghormati orang tuanya, namun tidak menyembahnya. Hanya satu yang kita sembah yaitu Tuhan Yesus.
    Ada kekuatiran dari orang tua, ”kalau anak-anak saya sudah jadi kristen atau percaya kepada Tuhan Yesus, maka anak-anak tidak menghormati saya lagi.” Kekuatiran tersebut muncul, karena perbedaan pemahaman. Para orang tua yang masih mempunyai keyakinan lama (belum kristen), merasa takut kalau dirinya meninggal, maka tidak ada yang sembahyangi dia. Pemahaman demikian, jelas berbeda dan keliru. Firman Tuhan memberi perintah supaya kita menghormati orang tua, ayah ibumu. Melalui hormat kepada orang tua, maka anak-anak mendapat berkat dari orang tua dan Tuhan, yaitu umur panjang dan rejeki. Kita menghormati orang tua pada masa hidupnya dan bukan pada saat meninggal. Memberi makan yang enak pada orang tua pada waktu hidup, dan bukan kalau sudah meninggal. Kita membelikan rumah pada masa hidupnya, bukan rumah-rumahan, ketika orang tua sudah meninggal. Untuk apa kita menyediakan makanan yang enak dan mahal di meja abu (tempat sembahyang) untuk orang tua yang sudah meninggal, sementara selama hidup bersamanya penuh dengan kebencian.
    Mungkin orang tua kita yang sudah meninggal mempunyai banyak kesalahan, sehingga muncul luka batin dalam diri anak-anaknya. Harus kita ingat! Orang tua adalah manusia. Sebagai manusia tentunya, orang tua tidak sempurna. Artinya ada kesalahan, sehingga menimbulkan kekecewaan dan sakit hati selama ia menjadi suami bagi istri, menjadi orang tua bagi anak-anak, menjadi mertua bagi menantu, menjadi opa bagi cucu-cucu. Sebaliknya, orang tua yang tidak sempurna, bukan berarti semua jelek dan negatif. Ada kenangan manis dan indah yang telah dilakukannya demi istri, anak-anak, menantu dan cucu. Biarlah yang manis dan indah selama almahum menjadi suami, ayah, mertua dan opa patut diteruskan oleh semua yang masih hidup. Kita belajar menjadi Zhang Liang, walaupun kesal dan dikecewakan oleh sang kakek dalam cerita di atas, namun ia tetap baik, sopan, bakti; sehingga menjadi anak yang sukses. Marilah kita kenang terus apa yang baik dan telah dilakukan oleh almahum selama ia ada di dunia ini.
    Sebaliknya, bagi kita saat ini dan dipercayakan oleh Tuhan sebagai orang tua dapat memberi sebuah keteladanan kepada generasi muda: anak, menantu, cucu, supaya mereka menjadi anak yang sopan dan berbakti. Bila kita sudah memberi sebuah keteladanan, maka anak-anak akan terus mengingat keteladanan tersebut walaupun kita sudah meninggal. Bukan semata dengan harta sebagai warisan yang dapat kita berikan kepada generasi muda, karena harta akan lenyap; tetapi berilah warisan keteladanan yang mempunyai nilai-nilai ”abadi”. Tuhan memberkati kita. Amin.

    Pdt. Sugiarto Sutanto, M.Min. (2009-01-29)

    Open chat
    Shallom,
    Selamat datang di website GKI Taman Aries, kami Admin GKI TA siap melayani Bapak/Ibu/Sdr/i.
    Silakan tekan tombol Open Chat untuk melanjutkan chat via Whatsapp dengan Admin