Selamat Datang di GKI Taman Aries Website

Follow Us:

KONTAK SEKRETARIAT

Far far away, behind the word moun tains, far from the countries Consonantia, there live the blind texts.

759 Pinewood Avenue

Marquette, Michigan

info@domain.com

Online Support

906-624-2565

Mon-Fri 8am-5pm

Get Subscribed!

    Banyak yang mengatakan “gagal itu adalah kesuksesan yang tertunda”. Kesuksesan yang dikejar sudah ada hanya belum di dapat. Karena itu harus di kejar terus. Jangan menyerah. Mungkin esok ia akan di dapatkan. Sebab itu orang pun berjuang keras dengan keringat deras sampai memeras rasa dan daya supaya tidak gagal lagi.

    Di sepanjang jalan orang-orang mulai bertanya “sampai kapan berusahanya?” Para motivator pun berkata, “sampai ia di dapatkan”. Lalu bagaimana cara mendapatkannya? Maka mereka pun membuat buku dan seminar tentang “1000 Tehnik Mengejar Kesuksesan” atau “Hidup Tanpa Gagal”. Dan, ini menjadi obat kuat untuk hasrat yang sudah lemah. Obat penenang bagi yang sudah kalut.

    Ternyata ada yang sudah banyak minum berbagai jenis obat kuat tetapi tetap saja masih gagal. Mereka pun kembali kepada si pembuat buku dan seminar. “Mengapa saya masih gagal?”, tanya mereka. Dan, mereka mendapat jawaban, “Mungkin Tuhan tidak menghendaki atau Ia memiliki rencana yang lain”. “Kenapa Tuhan tidak menghendaki saya sukses?”, kejar mereka pada si pembuat buku dan seminar. “Oh, untuk hal itu tanyakan saja pada rohaniawan agama saudara”, jawabnya singkat. Mereka pun akhirnya gagal juga mendapatkan jawaban dari si pembuat buku dan seminar “anti gagal”.

    Bicara tentang kegagalan, saya kira sebagian besar orang pernah mengalaminya. Baik itu dalam peristiwa besar atau pun hal-hal sederhana dalam kehidupan. Entah itu di peristiwa lampau atau pada saat ini, ketika saudara sedang membaca tulisan ini, saudara sedang merasa ‘gagal’.

    Kalau hampir semua orang pernah mengalami kegagalan, berarti kegagalan adalah hal yang umum, bukan spesial, di dalam perjalanan kehidupan. Saudara pernah gagal, orangtua saudara juga pernah gagal, teman, sahabat, bahkan pendeta saudara juga tidak luput dari kegagalan. Sebagian besar orang pernah mengalami kegagalan dalam bermacam kisah dan peristiwanya masing-masing. Di Alkitab pun banyak tokoh-tokoh yang mengalami perasaan gagal. Elia yang merasa gagal mentobatkan Israel pada zaman Ahab. Musa yang gagal memasuki tanah Kanaan. Daud yang gagal mendidik Absalom. Kita semua pernah punya cerita tentang kegagalan kita masing-masing. Kegagalan adalah hal yang biasa dan bisa terjadi dalam kehidupan manusia. Ia bukan peristiwa yang luar biasa dan spesial terjadi hanya untuk diri saudara semata. Ia adalah bagian dari perjalanan hidup.

    Karena itu, tidak perlu membayar mahal hanya untuk mengetahui kenapa saya gagal. Tidak perlu memeras dengan keras pikiran dan emosi untuk mendapatkan jawaban “Tuhan, mengapa saya gagal?” Ingatlah bahwa kegagalan adalah bagian dari perjalanan hidup manusia yang sedang berusaha. Karena itu apa yang paling penting kita sadari adalah bahwa di dalam kegagalan itu kita tetap berharga di mata Tuhan. Karena di hadapan Tuhan kita berharga bukan karena kita berhasil, tetapi karena ia mengasihi kita. Inilah anugerah yang menguatkan kita untuk menerima kegagalan menjadi bagian dari kehidupan.

    Dalam penghayatan anugerah tersebutlah kita akan tetap berdiri, melangkah, kuat, bertumbuh, dan damai dalam menerima kegagalan. Karena kita sadar bahwa gagal itu biasa, bukan istimewa, dan tidak menghilangkan anugerah kasih Tuhan. Ketika mengalami kegagalan, datang saja pada Tuhan dalam relasi yang dekat dan hangat, agar kita merasakan kasih-Nya yang mungkin sempat tidak terasa karena kekalutan diri. Jadi, bagaimana merespon kegagalan? Tetaplah berdiri dan melangkah, tersenyum dan tertawa, belajar dan berkembang, serta semakin bergantung pada anugerah kasih Bapa bukan upaya manusia semata.

    Salam
    Pdt. Rinto Tampubolon

    Suatu hari saya berada di tepian laut. Saya melihat dua orang nelayan berada di atas perahunya. Ombak menggoyang perahu dan berupaya mendorongnya untuk kembali ke pantai. Dua orang nelayan dengan tenang memasukkan dayung ke dalam air dan mendorongnya ke belakang. Upaya mereka tampak seperti sia-sia, ombak terus mendorong agar mereka mundur kembali ke tepi pantai. Nelayan dengan santai terus mendayung, mendayung, dan mendayung. Mereka tahu ombak tidak akan menenggelamkan mereka karena perahu mereka kuat. Mereka tahu bahwa untuk dapat maju, mereka hanya perlu tetap berupaya mendayung dengan tenang, terukur, sabar.

    Para Nelayan bukanlah penguasa ombak lautan. Mereka menyadari bahwa ombak akan selalu ada entah mereka berdoa atau tidak berdoa. Ombak akan selalu bergelombang baik mereka beribadah atau tidak beribadah. Ini adalah bentuk kesadaran diri akan realitas. Bahwa ada kenyataan atau realita dalam kehidupan ini yang harus dipahami karena begitulah adanya. Tetapi, bukan berarti mereka hanya diam saja menatap ombak dan menungguinya untuk berhenti bergelombang.

    Sekali lagi, para nelayan sungguh menyadari bahwa mereka bukanlah penguasa ombak lautan. Ada yang lain, yang berkuasa atas semua hal itu, yaitu ALLAH. Mereka datang pada-Nya di dalam doa dan ibadahnya. Bukan untuk meminta Allah menghentikan ombak bergelombang. Mereka meminta agar Allah memberikan hikmat supaya mereka bisa mengatasi ombak. Allah mendengar doa mereka. Ia memberikan hikmat untuk membuat perahu dan dayung.

    Apakah dapat membuat perahu dan dayung sudah cukup? Tentu tidak. Untuk dapat mendayung di atas ombak lautan mereka dibutuhkan iman dan upaya. Dibutuhkan keyakinan iman pada Allah untuk percaya bahwa perahu akan membuat mereka dapat aman mengatasi gelombang. Dibutuhkan upaya untuk berjuang mendayung perahu agar bergerak melewati gelombang demi gelombang.

    Perahu membuat mereka tidak tenggelam dan upaya mendayung membuat mereka bergerak. Upaya tanpa perahu akan sia-sia melawan gelombang, perahu tanpa upaya mendayung pun hanya terdampar di tepian pantai.

    Kehidupan nelayan mengingatkan saya akan firman Tuhan yang tidak asing di dengar. Firman yang berbicara tentang iman dan perbuatan. Apakah saudara juga mengingat firman itu? Cobalah renungkan firman itu beberapa waktu ke depan ini. Mungkin saudara saat ini sedang menghadapi gelombang, dan saudara sedang belajar bertumbuh mengatasi berbagai gelombang bersaama Tuhan.

    Salam
    Pdt. Rinto Tampubolon

    Open chat
    Shallom,
    Selamat datang di website GKI Taman Aries, kami Admin GKI TA siap melayani Bapak/Ibu/Sdr/i.
    Silakan tekan tombol Open Chat untuk melanjutkan chat via Whatsapp dengan Admin