Soteriologi



Soteriologi berasal dari kata soter (soteria = menyelamatkan) dan logos (ilmu). Jadi soteriologi adalah cabang ilmu dalam teologi yang mempelajari tentang gagasan keselamatan.

Pada dasarnya setiap agama berbicara tentang atau menjanjikan keselamatan. Dalam bentuk sehari-hari pertanyaan terkait dengan keselamatan ini muncul dalam bentuk: “apakah orang yang berbeda agama dari kita juga akan masuk sorga?”atau “jika agama lain juga menjanjikan keselamatan, mengapa saya harus beragama Kristen?”

Dari sini kita melihat bahwa keselamatan menjadi klaim agama, semacam hasil akhir yang dijanjikan, dan sekaligus semacam hak eksklusif dari pemeluk agama tertentu.
Ini pula yang membuat orang berani mengorbankan nyawa orang lain atau diri sendiri, karena meyakini bahwa ada keselamatan yang dijanjikan.

Namun mengapa manusia dalam agama merasa perlu konsep keselamatan?
- Punishment and reward mentality (kritik Nietzsche, atheist)
- Penderitaan hidup (kritik Marx)
- Kembali kepada Sang Pencipta (mistis, pengalaman religius)

Berbagai konsep keselamatan :
Setidaknya mengenal konsep keselamatan dapat dibagi dalam 7 kategori berdasarkan faktor pembedanya:
1. Diselamatkan dari atau untuk apa (negative atau positive)
2. Bersifat individual atau sosial
3. Kapan dan di mana
4. Siapa yang diselamatkan (universalis vs deterministic, conditional, purgatorial)
5. Pelaku keselamatan (autosoteric atau heterosoteric)
6. Metode (perbuatan baik dan ibadah, pengetahuan, iman)

1. Diselamatkan dari atau untuk apa?
Sama seperti perbedaan konsep keselamatan dalam agama-agama, pemahaman dari apa manusia perlu diselamatkan pun berbeda-beda dan turut menentukan bagaimana keselamatan itu diperoleh. Budhisme misalnya, memahami bahwa manusia perlu diselamatkan dari penderitaan (dhuka), maka caranya adalah dengan menyadari sumber penderitaan, yaitu keinginan. Hinduisme lain lagi, memahami keselamatan tidak dalam pengertian individu, melainkan dalam harmoni seluruh ciptaan. Manusia perlu diselamatkan dari keegoisan yang akan menciderai keharmonisan ciptaan. Maka dalam Hinduisme, kasta dan reinkarnasi dilihat sebagai bagian dari keutuhan ciptaan yang perlu dijaga. Keselamatan pada akhirnya adalah ketika roh/jiwa manusia mencapai moksha, yaitu pembebasan dari siklus samsara dan bersatu dengan Sumber kehidupan. Sementara Islam, agak mirip dengan kekristenan, memahami bahwa manusia perlu diselamatkan dari dosa-dosanya, tetapi tidak ada dosa turunan (manusia lahir bersih dari dosa), sehingga tidak perlu penebusan ilahi melainkan cukup dengan amal dan pahala. Dalam hal ini Islam justru lebih dekat dengan Yudaisme dalam memahami cara keselamatan diperoleh.

Jika Islam memandang manusia bersih polos seperti kertas yang hendak ditulisi, dan Hinduisme dan Budhisme memahami manusia merupakan akumulasi dari kehidupannya yang lalu, maka kekristenan memahami bahwa manusia sudah rusak sejak awal akibat dosa turunan. total depravity of humankind.

Manusia tidak memiliki kemampuan berbuat baik dalam dirinya akibat dosa yang telah merasuk dan menulari seluruh umat manusia (Roma 5: 12). Rusak susu sebelanga akibat nila setitik.
Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. (Roma 3: 23)
Hal ini membuat manusia tidak mampu melakukan apa yang baik. (Roma 3: 10 – 18)
Penebusan melalui hukum dan pengetahuan agama tidak mampu menyelamatkan manusia. (Roma 3: 19 – 20)
Perbuatan baik tidak mampu memulihkan kerusakan yang telah diakibatkan oleh perbuatan jahat. Co: mata ganti mata. Menyebarkan gossip.

Bagaimana hal ini dipahami? Akibat pemberontakan Adam dan Hawa (Roma 5: 12 dst)
Manusia memberontak kepada Allah karena ia mau menjadi sama seperti Allah. Manusia menyalahgunakan kebebasan yang diberikan atau dipercayakan Allah kepadanya (Kej 2 : 16-17).

Hubungan yang harmonis antara Allah dengan manusia, akhirnya menjadi rusak karena manusia jatuh kedalam dosa. Hakikat dosa adalah memisahkan manusia dari Allah, ciptaan harus terpisah jauh dari Sang Pencipta, sumber kehidupan.
Dosa manusia adalah dosa pengetahuan antara yang baik dan yang jahat, sementara dirinya terikat dalam kedagingan – tidak mampu melakukan yang sesuai dengan kehendak roh.

Namun sisi keselamatan dalam pemahaman kita bukan hanya dalam pengertian negatif (diselamatkan dari dosa), tetapi ada juga sisi pengertian yang positif, yaitu bahwa orang diselamatkan untuk melakukan hal-hal yang baik. Lihat Efesus 2: 10.
“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus, untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya.”

Salah satu kritik terhadap orang beragama adalah bahwa mereka hanya melakukan yang baik supaya masuk sorga atau menghindari neraka. Atau dalam kekinian adalah juga untuk menerima berkat-berkat duniawi. Kritik ini tidak sepenuhnya salah, karena memang banyak orang percaya bersikap demikian dalam mendasari pekerjaan baik mereka. Namun seharusnya tidak demikian. Keselamatan kita pahami adalah pembebasan kita dari perbudakan dosa dan kedagingan, dan hidup dalam pemulihan hubungan dengan Allah dan berkarya untuk kemuliaan Allah dan kebaikan semua ciptaan. Dalam bahasa GKI kita diselamatkan untuk menjadi rekan sekerja Allah.


2. Individual atau Sosial
Jika dibandingkan dengan Yudaisme yang memahami keselamatan berlaku bagi keturunan Abraham, maka kekristenan lebih bersifat individual daripada sosial. Keselamatan adalah masalah pribadi seseorang, bukan akibat keturunan atau keluarganya (lihat Matius 3: 9). Protestantisme secara khusus banyak berbicara tentang hubungan pribadi dan langsung dengan Tuhan sebagai wujud hasil keselamatan. Pemulihan relasi dan pendamaian dengan Tuhan membuat kita berani datang langsung kepada Tuhan, menyapa Allah sebagai “Bapa”.

Namun keselamatan individual tidak berarti bahwa seorang Kristen tidak perlu memikirkan keselamatan orang lain. Dalam terang inilah kita memahami perintah untuk mengabarkan Injil dan membaptis orang dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Bukan sebagai superioritas agama, tetapi sebagai wujud sukacita yang meluap akibat keselamatan yang diterima oleh pribadi.

3. Kapan dan Di Mana
Kekristenan, adalah agama yang linear, memahami bahwa hidup ini ada awal dan akhir, alfa dan omega. Ada penciptaan dan akan ada penghakiman serta kehidupan kekal. Ada banyak rujukan tentang hal ini dalam Alkitab baik PL maupun PB. Dalam pengertian ini, maka keselamatan menurut kekristenan bersifat otherworldly atau “nanti dan di sana”.
Bandingkan dengan keselamatan yang penekanannya pada hidup di sini dan sekarang serta bersifat siklus (reinkarnasi, misalnya), maka ada perbedaan yang cukup mendasar tentang bagaimana orang Kristen akan menjalani hidupnya. Konsekuensi hidup sekarang bersifat kekal dan hidup hanya ada satu kali.

Namun karena keterbatasan manusia, pemahaman otherworldly ini menjadi menyimpang dan tidak menjadi hal yang membangun. Keselamatan dipandang sebagai urusan surgawi dan manusia berpikir hanya untuk nanti tanpa menjalani kehidupan sekarang dengan sungguh-sungguh. Termasuk juga dalam hal pekabaran Injil, mereka menggunakan kekerasan dan paksaan untuk menjadikan orang Kristen, sehingga sekalipun orang yang dikristenkan akan menderita dan mati, tidak mengapa bagi mereka karena ia akan masuk surga. Hal ini juga yang dikritik oleh Marx bagaimana agama menjadi janji-janji surgawi dan candu bagi kelas bawah.

Oleh karena itu dalam perkembangan teologi, ada pergeseran penekanan tentang keselamatan menjadi “this worldly” atau istilahnya “keselamatan masa kini”. Keselamatan tidak hanya berbicara tentang mati masuk surga, tetapi juga bagaimana membebaskan orang dari keserakahan, dari penindasan, dan sebagainya. Istilah yang sering digunakan adalah menghadirkan Kerajaan Allah di bumi.

4. Siapa yang Diselamatkan
Mengenai hal ini ada 4 pandangan yang membedakan aliran kekristenan:
- Predestinasi (ganda)
- Conditional
- Universalist
- Purgatorinism
GKI sebagai gereja dengan tradisi Protestan memahami keselamatan dalam arti predestinasi, namun dengan catatan sbb:
Hampir di setiap agama, ada konsep serupa dengan predestinasi. Misalnya takdir dalam Islam, atau reikarnasi-karma dalam agama Timur. Demikian juga predestinasi, yang sebetulnya warisan dari Yudaisme, bahwa ada orang yang diciptakan untuk malapetaka (Amsal 16: 4).
Rupanya menjadi kebutuhan suatu belief system/ worldview/ isme/ agama untuk melihat bahwa ada penyebab eksternal yang menentukan nasib manusia, selain pilihan dan usahanya.

Kembali ke predestinasi (juga takdir dan reinkarnasi), kalau pun kita pegang mentah-mentah ajaran gereja tentang predestinasi dan double predestination, pertanyaannya adalah: Bagaimana kita tahu bahwa kita ditentukan untuk diselamatkan dan bukan dibinasakan? Tidak ada yang tahu. Karena bisa jadi seorang terlahir di keluarga Kristen tapi di akhir hidupnya ia berhenti percaya pada Tuhan. Atau seseorang dilahirkan di keluarga non Kristen, tapi di akhir hidupnya ia mengenal Tuhan. Tidak ada seorang pun dari kita yang tahu bagaimana akhir hidup kita nanti.

Maka sekalipun kita memegang mentah-mentah konsep predestinasi, kita tetap harus “mengerjakan keselamatan” kita dengan sungguh-sungguh sehingga bisa “mengakhiri pertandingan dengan baik. Pun kalau kita tidak ditentukan untuk selamat, masak Tuhan tak berbelas kasihan kepada orang yang sungguh-sungguh mengerjakan keselamatannya?
Jadi inti dari konsep predestinasi adalah untuk menekankan kerendahan hati dan rasa syukur, bahwa keselamatan kita adalah dari Tuhan saja asalnya.
5. Pelaku Keselamatan
Kejatuhan manusia dalam dosa membuat manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Kita berdosa terhadap Tuhan, maka Tuhan yang menentukan pemulihan relasi tersebut.
Bandingkan kalau kita berbuat jahat kepada orang lain, maka sekalipun kita ingin berbaikan, yang menentukan hubungan itu pulih adalah kalau orang yang dijahati mau mengampuni atau tidak. Tapi sebaliknya, kalau orang yang dijahati mau mengampuni tapi kita merasa tidak bersalah dan tidak butuh berbaikan, maka pemulihan relasi itu pun tidak mungkin. Oleh karena itu, pelaku utama keselamatan adalah Allah yang mau mendamaikan seluruh ciptaan dengan diri-Nya, tetapi ada peran manusia dalam merespons penyataan Allah ini.

Dalam hal keselamatan kita mengenal Allah Tritunggal sebagai pelaku keselamatan. Surat Ibrani 1: 1 – 4 mengatakan: setelah pada zaman dulu Allah berulang kali dan dalam berbagai cara berbicara melalui perantaraan para nabi (tapi tidak didengar dan menghasilkan perubahan), maka pada zaman akhir ini Ia berbicara kepada manusia melalui perantaraan Anak-Nya.

Pertanyaan yang mungkin muncul: kenapa baru pada masa itu? Bagaimana dengan orang-orang sebelum Yesus? Jawabnya karena itulah rencana dan kemurahan Allah. Sama seperti kenapa baru sekarang kita punya pemimpin negara yang baik? Kemurahan: kita yang diselamatkan seharusnya bersyukur luar biasa. Mereka yang ada sebelum Yesus pun berada dalam kemurahan Allah.
Lalu apakah peran Roh Kudus dalam anugerah keselamatan ini? Roh Kudus adalah yang memancarkan anugerah Ilahi, yang menggerakkan hati manusia untuk menerima anugerah keselamatan, yang membimbing manusia mengerjakan keselamatannya, dan yang menjaga manusia yang telah dimateraikan oleh keselamatan itu.

6. Bagaimana Caranya
Kita mengenal semboyan sola fide, sola gratia, sola scriptura dalam tradisi Protestantisme. Yang artinya adalah keselamatan kita hanya diperoleh karena iman dan karena anugerah, sesuai dengan yang dinyatakan dalam Alkitab, bukan karena usaha manusia dan tidak menurut ajaran manusia. Semboyan ini adalah reaksi terhadap penyimpangan yang terjadi dalam gereja pada saat itu, di mana keselamatan diletakkan pada sakramen yang eksklusif dilayankan oleh gereja. Martin Luther mengingatkan dan mengajak umat untuk kembali kepada ajaran Alkitab, bahwa hanya melalui iman kita diselamatkan oleh anugerah Allah – bukan yang lain.

Iman dipahami sebagai respons aktif manusia terhadap penyataan anugerah Allah di dalam Kristus. Untuk itu ada tiga elemen dalam iman: percaya, perjanjian, pembuktian.

PERCAYA
Apakah yang dimaksud dengan percaya?
Percaya adalah bentuk dasar dari iman, dengan kata lain iman adalah suatu bentuk sikap percaya. Di dalam ibadah kita setiap minggu kita mengucapkan kalimat “aku percaya ….” di dalam Pengakuan Iman Rasuli. Pengakuan Iman Rasuli dalam bahasa Inggris disebut Apostle’s Creed, dari kata latin credo – yang artinya “aku percaya”. Credo berasal dari akar kata yang sama dengan cardio, jantung. Secara harafiah credo berarti: aku menaruh jantung/hatiku di dalam sesuatu.

Kalau boleh saya sederhanakan menaruh jantung hati ini sama seperti orang yang jatuh cinta. Biasanya kalau orang jatuh cinta segala sesuatu yang dilakukannya terpikir untuk dan karena orang yang ia kasihi. Selain itu ketika orang jatuh cinta, ia menjadi rapuh; suasana hatinya sangat bergantung pada orang yang ia cintai itu: perasaan diterima, ditolak, cemburu, dan sebagainya. Ia bisa hidup tanpa orang yang ia cintai itu, tetapi ia tidak mau.

Demikian juga percaya kepada Allah berarti kita menaruh seluruh hidup, pikiran dan perasaan kita di dalam Allah, tanpa cadangan. Menjadi sepenuhnya bergantung pada Allah, bukan karena kita punya kebutuhan, tetapi karena tanpa-Nya hidup menjadi tak bermakna.

PERJANJIAN
Pengertian tersebut membawa kita ke elemen yang kedua dari iman: perjanjian.
Perjanjian adalah suatu ikatan. Bagi banyak orang ikatan dipandang sebagai sesuatu yang buruk, karena orang mau bebas dan berhak kabur kapan saja situasi menjadi tidak menyenangkan. Tetapi perjanjian juga berarti relasi, di mana seseorang dengan setia akan tetap memegang janjinya sekalipun keadaan menjadi sulit. Demikian juga perjanjian kita dengan Allah. Ia yang mengikatkan diri dengan kita, sekalipun tidak ada keuntungan yang dapat kita tawarkan kepada Allah, malah sebaliknya hanya menyusahkan Allah saja.

Tanpa perjanjian dari Allah, maka sia-sialah kita berharap, karena sekalipun Allah mampu, tapi Ia tidak terikat. Namun Allah memilih untuk mengikatkan diri dengan kita, dan Ia berjanji untuk setia, sekalipun kita tidak setia dalam perjanjian itu, karena Allah tidak dapat menyangkali diri-Nya (2 Tim 2: 13). Oleh karena itulah kita bisa berharap dan berdoa, karena Allah telah berjanji.

Namun sekali lagi perlu dipahami bahwa perjanjian dengan Allah berarti relasi, dan relasi selalu bersifat dua arah. Allah telah berjanji untuk setia, sementara kita diminta untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Janji yang mengikat membutuhkan kesetiaan dan pembuktian dari kedua belah pihak.

PEMBUKTIAN
Di sinilah kita masuk ke elemen ketiga dari iman: pembuktian. Dalam hidup kita sebagai orang Kristen kita belum sampai mencucurkan darah, tapi ada banyak sekali upaya kita untuk mengelak. Buat kita juga sering kali penderitaan atau kesusahan sebagai murid Yesus tidaklah benar, kita lihat sebagai ujian bahkan hukuman, padahal itu adalah panggilan dan karunia buat kita.
Seorang pengemudi tidak terbukti kepandaiannya dalam berkendara di lapangan parkir atau di jalan yang lurus dan lancar, melainkan di jalan yang berliku, curam, licin, dan sempit. Demikian juga seorang kekasih tidak terbukti kasih setianya di saat semua menyenangkan dan sesuai rencana, tetapi justru di saat susah dan pasangannya tidak lagi ‘menyenangkan’.

Bagaimana pembuktian iman dinyatakan?
Melalui perbuatan (lihat Yakobus 2: 18 – 22 dan Matius 25: 31 – 46) dan penyangkalan diri serta memikul salib Kristus.Di setiap gereja denominasi apa pun, pasti ada salib di tengah dan di depan. Itu untuk mengingatkan kita akan penderitaan yang harus Yesus alami demi menebus kita dan mempersatukan kita sebagai tubuh Kristus

Dan bagaimana dengan pengetahuan?
Memakai istilah Paulus: sebagai orang yang telah lahir baru, maka kita harus memikirkan perkara yang di atas, mengarahkan pikiran kepada Kristus.
Pertobatan dalam bahasa Yunani menggunakan kata metanoia = perubahan akal budi (lihat Roma 12: 2). Maka beriman adalah menaklukkan segala pikiran kepada Kristus, mengubah nilai-nilai dan sudut pandang kita.

Namun hati-hati juga dengan kesombongan rohani atau iman yang kosong (lihat 1 Korintus 8: 1 – 3, 13: 2) karena pengetahuan akan kebenaran dan kehendak Allah seharusnya menghasilkan kerendahan hati, pengertian, dan belas kasih.
Penutup
Keselamatan adalah anugerah semata, tapi bukan cheap grace.
Maka kerjakanlah keselamatan itu dengan takut dan gentar (Filpi 2: 12).
Article List of GKI Taman Aries
Gereja Kristen Indonesia © 2008. Design and Development by Aqua-Genesis.